Islamuddin’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MAKALAH PERSPEKTIF PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL

1. Masalah kurikulum dan solusinya

A. Pengertian Evaluasi Kurikulum

Pemahaman mengenai pengertian evaluasi kurikulum dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian kurikulum yang bervariasi menurut para pakar kurikulum. Oleh karena itu penulis mencoba menjabarkan definisi dari evaluasi dan definisi dari kurikulum secara per kata sehingga lebih mudah untuk memahami evaluasi kurikulum.Pengertian evaluasi menurut joint committee, 1981 ialah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa obyek. Purwanto dan Atwi Suparman, 1999 mendefinisikan evaluasi adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang suatu program. Rutman and Mowbray 1983 mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan. Chelimsky 1989 mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Sedangkan pengertian kurikulum adalah :

a. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional);

b. Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 725/Menkes/SK/V/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di bidang Kesehatan.).

c. Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi (Pasal 1 Butir 6 Kepmendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa);

d. Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai

e. Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.

Dari pengertian evaluasi dan kurikulum di atas maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik tentang manfaat, kesesuaian efektifitas dan efisiensi dari kurikulum yang diterapkan. Atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan.

Evaluasi kurikulum ini dapat mencakup keseluruhan kurikulum atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut.Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuannya. Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan direvisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk menguji teori atau membuat teori baru.

Fokus evaluasi kurikulum dapat dilakukan pada outcome dari kurikulum tersebut (outcomes based evaluation) dan juga dapat pada komponen kurikulum tersebut (intrinsic evaluation). Outcomes based evaluation merupakan fokus evaluasi kurikulum yang paling sering dilakukan. Pertanyaan yang muncul pada jenis evaluasi ini adalah “apakah kurikulum telah mencapai tujuan yang harus dicapainya?” dan “bagaimanakah pengaruh kurikulum terhadap suatu pencapaian yang diinginkan?”. Sedangkan fokus evaluasi intrinsic evaluation seperti evaluasi sarana prasarana penunjang kurikulum, evaluasi sumber daya manusia untuk menunjang kurikulum dan karakteristik mahasiswa yang menjalankan kurikulum tersebut

B. Pentingnya Evaluasi Kurikulum

Penulis setuju dengan pentingnya dilakukan evaluasi kurikulum. Evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya, yang mana informasi ini sangat berguna sebagai bahan pembuat keputusan apakah kurikulum tersebut masih dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang berubah.

Evaluasi kurikulum dapat menyajikan bahan informasi mengenai area – area kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan menuju yang lebih baik. Evaluasi ini dikenal dengan evaluasi formatif. Evaluasi ini biasanya dilakukan waktu proses berjalan. Evaluasi kurikulum juga dapat menilai kebaikan kurikulum apakah kurikulum tersebut masih tetap dilaksanakan atau tidak, yang dikenal evaluasi sumatif.

C. Masalah dalam Evaluasi Kurikulum.

Norman dan Schmidt 2002 mengemukakan ada beberapa kesulitan dalam penerapan evaluasi kurikulum , yaitu :

1. Kesulitan dalam pengukuran

2. Kesulitan dalan penerapan randomisasi dan double blind

3. Kesulitan dalam menstandarkan intervensi dalam pendidikan.

4. Pengaruh intervensi dalam pendidikan mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor lain sehingga pengaruh intervensi tersebut seakan-akan lemah.

Penulis mencoba menganalisa masalah yang dihadapi dalam melakukan evaluasi kurikulum, yaitu :

1. Dasar teori yang digunakan dalam evaluasi kurikulum lemah,. Dasar teori yang melatarbelakangi kurikulum lemah akan mempengaruhi evaluasi kurikulum tersebut. Ketidakcukupan teori dalam mendukung penjelasan terhadap hasil intervensi suatu kurikulum yang dievaluasi akan membuat penelitian (evaluasi kurikulum) tidak baik. Teori akan membantu memahami kompleksitas lingkungan pendidikan yang akan dievaluasi. Contohnya Colliver mengkritisi bahwa Problem Based Learning (PBL) tidak cukup hanya menggunakan teori kontekstual learning untuk menjelaskan efektivitas PBL. Kritisi ini ditanggapi oleh Albanese dengan mengemukakan teori lain yang mendukung PBL yaitu, information-processing theory, complex learning, self determination theory. Schdmit membantah bahwa sebenarnya bukan teorinya yang lemah akan tetapi kesalahan terletak kepada peneliti tersebut dalam memahami dan menerapkan teori tersebut dalam penelitian.

2. Intervensi pendidikan yang dilakukan tidak memungkinkan dilakukan Blinded. Dalam penelitian pendidikan khususnya penelitian evaluasi kurikulum, ditemukan kesulitan dalam menerapkan metode blinded dalam melakukan intervensi pendidikan. Dengan tidak adanya blinded maka subjek penelitian mengetahui bahwa mereka mendapat intervensi atau perlakuan sehingga mereka akan melakukan dengan serius atau sungguh-sungguh. Hal ini tentu saja dapat mengakibatkan bias dalam penelitian evaluasi kurikulum

3. Kesulitan dalam melakukan randomisasi Kesulitan melakukan penelitian evaluasi kurikulum dengan metode randomisasi dapat disebabkan karena subjek penelitian yang akan diteliti sedikit atau kemungkinan hanya institusi itu sendiri yang melakukannya. Apabila intervensi yang digunakan hanya pada institusi tersebut maka timbul pertanyaan, “apakah mungkin mencari kelompok kontrol dan randomisasi?”

4. Kesulitan dalam menstandarkan intervensi yang dilakukan/kesulitan dalam menseragamkan intervensi.Dalam dunia pendidikan sulit sekali untuk menseragamkan sebuah perlakuan cotohnya penerapan PBL yang mana memiliki berbagai macam pola penerapan. Norman (2002) mengemukakan tidak ada dosis yang standar atau fixed dalam intervensi pedidikan. Hal ini berbeda untuk penelitian di biomed seperti pengaruh obat terhadap suatu penyakit, yang mana dapat ditentukan dosis yang fixed. Berbeda dengan penelitian evaluasi kurikulum misalnya pengaruh PBL terhadap kemamuan Self Directed Learning (SDL). Penerapan PBL di berbagai FK dapat bermacam-macam. Kemungkinan penerapan SDL dalam PBL di FK A 50 % , sedangkan di FK B adalah 70 % , maka apabila mereka dijadikan subjek penelitian maka tentu saja pengaruh PBL terhadap SDL akan berbeda. 7,8,9,10

5. Masalah Etika penelitianMasalah etika penelitian merupakan hal yang perlu dipertimbangkan. Penerapan intervensi dengan metode blinded dalam penelitian pendidikan sering terhalang dengan isu etika. Secara etika intervensi tersebut harus dijelaskan kepada subjek penelitian sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Padahal apabila suatu intervensi diketahui oleh subjek penelitian maka ada kecendrungan subjek penelitian melakukan dengan sungguh-sungguh sehingga penelitian tidak berjalan secara alamiah.Pengaruh hasil penelitian terhadap institusi juga perlu dipertimbangkan. Adanya prediksi nantinya pengaruh hasil penelitian yang akan menentang kebijaksanaan institusi dapat mengkibatkan kadangkala peneliti menghindari resiko ini dengan cara menghilangkan salah satu variable dengan harapan hasil penelitian tidak akan menentang kebijaksanaan.

6. Tidak adanya pure outcomeOutcome yang dihasilkan dari sebuah intervensi pendidikan seringkali tidak merupakan outcome murni dari intervensi tersebut. Hal ini disebabkan karena banyaknya faktor penganggu yang mana secara tidak langsung berhubungan dengan hasil penelitian. Postner dan Rudnitsky, 1994 juga mengemukakan dalam outcome based evaluation terdapat informasi mengenai main effect dan side effect sehingga kadangkala peneliti kesulitan membedakan atara main effect dan side effect ini.

7. Kesulitan mencari alat ukurEvaluasi pendidikan merupakan salah satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari rencana pendidikan. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua bentuk evaluasi dapat dipakai untuk mengukur pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Informasi tentang tingkat keberhasilan pendidikan akan dapat dilihat apabila alat evaluasi yang digunakan sesuai dan dapat mengukur setiap tujuan. Alat ukur yang tidak relevan dapat mengakibatkan hasil pengukuran tidak tepat bahkan salah sama sekali.

8. Penggunaan Perspektif kurikulum yang berbeda sebagai pembandingPostner mengemukakan ada lima perspektif dalam kurikulum yaitu traditional, experiential, Behavioral, structure of discipline dan constructivist. Masing-masing perspektif ini memiliki tujuannya masing-masing. Dalam melakukan evaluasi kurikulum kita harus mengetahui perspektif kurikulum yang akan dievaluasi dan perspektif kurikulum pembanding. Hal ini sering terlihat dalam evaluasi kurikulum dengan menggunakan metode comparative outcome based yang bila tidak memperhatikan masalah ini akan melahirkan bias dalam evaluasi. Kurikulum dengan perspektif tradisional tentu saja berlainan dengan kurikulum yang memiliki perspektif konstruktivist. Contoh kurikulum tradisional menekankan pada recall of knowledge sedangkan kurikulum konstruktivist menekankan pada konsep dasar dan ketrampilan berpikir. Apabila ada penelitian yang menghasilkan bahwa kurikulum tradisional di pendidikan dokter lebih baik dalam hal knowledge dibandingkan dengan PBL hal ini tentu saja dapat dimengerti karena perspektifnya berbeda. Penelitian yang menggunakan metode perbandingan kurikulum yang perspektifnya berbeda ini seringkali menjadi kritikan oleh para ahli. 5

2. Masalah metode dan solusinya

Pemilihan metode pembelajaran yang tepat akan membangkitkan motivasi belajar siswa, dimana siswa akan lebih tertarik dengan materi yang disampaikan oleh guru sehingga memudahkan siswa memahami pelajaran melalaui metode tanya jawab. Dengan menggunakan metode tanya jawab siswa merasa terlibat langsung dalam proses pembelajaran sehingga mereka termotivasi selama pembelajaran berlangsung. Motivasi memberikan pengaruh yang besar untuk menjaga kelangsungan belajar siswa dalam tingkat kesungguhan belajar siswa yang tinggi.

Pada umumnya motivasi belajar rendah dilihat pada sikap siswa yang kurang bergairah serta kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran pendidikan di sekolah, sehingga suasana belajar di kelas menjadi kurang aktif, interaksi antara guru dan siswa sangat kurang, apalagi siswa dengan siswa. Siswa cenderung pasif, hanya menerima atau mendengarkan saja apa yang diberikan guru. Pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa sering dikumpulkan terlambat. Bahkan tugas yang diberikan oleh guru tidak dikerjakan dengan alasan tidak mempunyai buku paket. Selain itu juga, pada saat guru menjelaskan di depan kelas terdapat siswa yang mengerjakan pekerjaan lain, bahkan ada siswa yang hanya bermain-main dan tidak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan kelas. Siswa juga mudah lupa terhadap materi yang telah dijelaskan guru di kelas yang disebabkan tidak adanya usaha dari siswa untuk memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru.

a. metode diskusi

Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama.

Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak:

a. memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa

b. memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya

c. mendapatkan balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai

d. membantu siswa belajar berpikir secara kritis

e. membantu siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman

f. membantu siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran sekolah

g. mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.

Adapun kelebihan metode diskusi sebagai berikut:

a. Mendidik siswa untuk belajar mengemukakan pikiran atau pendapat.

b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh penjelasan-penjelasan dari berbagai sumber data.

c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati pembaharuan suatu problem bersama-sama.

d. Melatih siswa untuk berdiskusi di bawah asuhan guru.

e. Merangsang siswa untuk ikut mengemukakan pendapat sendiri, menyetujui atau menentang pendapat teman-temannya.

f. Membina suatu perasaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat, kesimpulan, atau keputusan yang akan atau telah diambil.

g. Mengembangkan rasa solidaritas/toleransi terhadap pendapat yang bervariasi atau mungkin bertentangan sama sekali.

h. Membina siswa untuk berpikir matang-matang sebelum berbicara.

i. Berdiskusi bukan hanya menuntut pengetahuan, siap dan kefasihan berbicara saja tetapi juga menuntut kemampuan berbicara secara sistematis dan logis.

j. Dengan mendengarkan semua keterangan yang dikemukakan oleh pembicara, pengetahuan dan pandangan siswa mengenai suatu problem akan bertambah luas.

Kelemahan metode diskusi sebagai berikut:

a. Tidak semua topik dapat dijadikan metode diskusi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan.

b. Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu.

c. Sulit untuk menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian diskusi.

d. Biasanya tidak semua siswa berani menyatakan pendapat sehingga waktu akan terbuang karena menunggu siswa mengemukakan pendapat.

e. Pembicaraan dalam diskusi mungkin didominasi oleh siswa yang berani dan telah biasa berbicara. Siswa pemalu dan pendiam tidak akan menggunakan kesempatan untuk berbicara.

f. Memungkinkan timbulnya rasa permusuhan antarkelompok atau menganggap kelompoknya sendiri lebih pandai dan serba tahu daripada kelompok lain atau menganggap kelompok lain sebagai saingan, lebih rendah, remeh atau lebih bodoh.

b. Metode Inquiry

Metode ini menekankan pada penemuan dan pemecahan masalah secara berkelanjutan. Kelebihan metode ini mendorong siswa berpikir secara ilmiah, kreatif, intuitif dan bekerja atas dasar inisiatif sendiri, menumbuhkan sikap objektif, jujur dan terbuka. Kelemahannya memerlukan waktu yang cukup lama, tidak semua materi pelajaran mengandung masalah, memerlukan perencanaan yang teratur dan matang, dan tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif.

c. Course Review Horay

Suatu metode pembelajaran dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan jawabannya, yang paling dulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay.

Langkah-langkah:

1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

2. Guru mendemonstrasikan / menyajikan materi sesuai tpk.

3. Memberikan siswa tanya jawab.

4. Untuk menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kotak 9 / 16 / 25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing.

5. Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (v) dan salah diisi tanda silang (x)

6. Siswa yang sudah mendapat tanda v vertikal atau horisontal, atau diagonal harus segera berteriak horay atau yel-yel lainnya.

7. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar dan jumlah horay yang diperoleh.

8. Penutup.

Kelebihan:

1. Pembelajarannya menarik mendorong untuk dapat terjun ke dalamnya.
2. Melatih kerjasama.

Kekurangan:
1. Siswa aktif dan pasif nilainya disamakan.

2. Adanya peluang untuk curang.

d. Metode Debat

Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.

Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat. Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

e. Role Playing

Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:

Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.

1. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.

2. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.

3. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.

4. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

f. Pemecahan masalah (Problem solving)

Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.

Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.

Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:

1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.

2. Berpikir dan bertindak kreatif.

3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis

4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.

5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.

6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.

7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.

Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:

1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.

2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.

g. Berdasarkan masalah

Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.

Langkah-langkah:

1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan.

2. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.

3. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)

4. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.

5. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.

6. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Kelebihan:

1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.

2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.

3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.

Kekurangan:

1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.

2. Membutuhkan banyak waktu dan dana.

3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini

3. Masalah fasilitas dan solusinya

Pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di tengah perubahan global agar warga Indonesia menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi dalam pergaulan nasional maupun internasional. Untuk menjamin tercapainya tujuan pendidikan tersebut, Pemerintah telah mengamanatkan penyusunan delapan standar nasional pendidikan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimum tentang system pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pelaksanaan pembelajaran dalam pendidikan nasional berpusat pada peserta didik agar dapat: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

(b) belajar untuk memahami dan menghayati,

(c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,

(d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain,

(e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Untuk menjamin terwujudnya hal tersebut diperlukan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang memadai tersebut harus memenuhi ketentuan minimum yang ditetapkan dalam standar sarana dan prasarana. Standar sarana dan prasarana ini disusun untuk lingkup pendidikan formal, jenis pendidikan umum, jenjang pendidikan dasar dan menengah yaitu: Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).

4. Masalah guru dan solusinya.

Lemahnya koordinasi dan sinergi di empat lembaga negara dinilai sebagai penyebab berlarut-larutnya penanganan masalah guru. Lembaga yang dimaksud meliputi Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, Departemen Dalam Negeri, dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. (media Indonesia, HAR Tilaar, 1 peb 2007).

Pembatalan uji sertifikasi bagi 20 ribu guru pada 2006, lambannya penetapan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pendanaan Pendidikan, dan terlambatnya pengangkatan guru bantu menjadi CPNS adalah buah dari kurangnya koordinasi antar lini di departemen tadi. Selain itu, berlakunya otonomi daerah juga turut menyumbang terjadinya silang kewenangan dalam mengurusi kesejahteraan guru.

Solusinya terhadap beberapa permasalahan tadi. Misalnya, RPP Guru dan Dosen yang belum keluar karena masih dalam tahap harmonisasi di Departemen Hukum dan HAM semestinya dapat diantisipasi oleh Depdiknas. Alasannya, DPR telah menyetujui anggaran untuk uji sertifikasi bagi 20 ribu guru itu (Media Indonesia, 31/1).Sudah seharusnya ada koordinasi yang erat di antara empat lembaga negara tadi untuk menyelesaikan masalah legislasi maupun koordinasi dengan daerah. Koordinasi pusat-daerah diperlukan untuk menyelesaikan masalah penyediaan anggaran pendidikan sebesar 20%, seperti yang diamanahkan UUD.

Terkait dengan permasalahan kesejahteraan guru, lebih disebabkan ketidakjelasan pemahaman pembagian wewenang antara pusat dan daerah. Menurutnya, sebenarnya sudah jelas diatur dalam UU Otonomi Daerah bahwa daerahlah yang bertanggung jawab.Kecenderungan desentralisasi yang terlalu jauh, yakni adanya kebijakan kabupaten/kota yang langsung mengurusi kesejahteraan guru akan rancu dengan kebijakan pemerintah provinsi apalagi pusat.

Untuk itu, selain koordinasi erat antar departemen terkait dalam mengurusi kesejahteraan guru, juga perlu dilakukan pemisahan yang jelas antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengurusi kesejahteraan guru. terkait dengan pembinaan dan kesejahteraan guru lebih baik diatur pusat. Sedangkan untuk penempatan guru-guru bisa diatur pemerintah daerah. Namun, tambahnya, dengan pengecualian, seperti daerah bencana, daerah terpencil, daerah tertinggal dan daerah konflik, penempatan guru sebaiknya diatur pusat.

5. Masalah evaluasi dan solusinya

Pelakssanaan kurikulum merupakan titik pusan dari suatu upaya pendidikan. Segala cita-cita landasan teoritik yang digunakan dalam mengembangkan suatu rencana akan teruji dalam apa yang terjadi di lapangan. Apabila yang terjadi menggamabarkan apa yang telah didesain oleh pengembang kurikulum berarti pelaksanaan kurikulum telah tercapai apa yang harusnya dicapai. Pada waktu itulah hasil kurikulum dapat dijadikan patokan untuk menentukan apakah landasan teoritik yang digunakan memang menunjukkan keunggulan. Artinya, keberhasilan suatu kurikulum baru dapat ditentukan setelah diadakan suatu evaluasi

Kebutuhan akan evaluasi disini memang berbeda dibandingkan dalam perubahan kurikulum. Dalam perubahan kurikulum adanya unsur politik seringkali merupakan penyebab utama dibandingkan hasil evaluasi. Adanyan kenyataan bahwa para pengambil keputusan menyatakan perubahan kurikulum atau mengganti kurikulum tanpa alasana yang kuat secara akademik. Dalam hal ini ada tidaknya evaluasi bukanlah menjadi soal menentukan. Keterhubungan antara perubahan kurikulum dengan kukuasaan (politik meupun administratif) adalah sesuatu yang sukar dielakkan.

a. pengertian evaluasi

Defenisi evaluasi mengandung tiga konsep pokok yaitu pemberian pertimbangan (judgement), nilai (merit) dan arti (worth). Oleh karena itu evaluasi diartikan sebagai proses pemberian pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu. Sesuatu yang disebut juga dengan istilah evaluan dalam konteks ini adalah kurikum dengan keseluruhan dimensinya (ide, dokumen/rencana tertulis, realita, dan hasil).

Nilai adalah harga yang diberikan kepada evaluan (kurikulum) berdasarkan kriteria internal. Disini pertimbangan yang diberikan adalah apakah suatu kurikulum telah menggambarkan apa yang ingin dicapainya.

Pertimbangan evaluatif yang kedua adalah mengenai arti suatu kurikulum. Pertimbangan ini diberikan apabila sutau kurikulum telah mengalami suatu tes lapangan. Disini kajian evaluasi terutama didasarkan pada data empirik. Artinya, kajian ini baru dapat dilaksanakan ketika dilaksanakan disekolah, ketika pemakain kurikulum (siswa) telah melaksanakan kurikulum yang dimaksud. Dari hasil pelaksanaan tersebut diketahui apakah kurikulum yang digunakan memang memberi arti.

b. Komponen evaluasi

Menurut Wiles (1989) komponen-komponen evaluasi adalah konteks (context), masukan (input) proses (process), dan hasil (product) yang biasa disingkat dengan CIPP model, yang pada dasarnya bertumpu tentang : proses, penggambaran perolehan, dan penyediaan informasi yang berguna bagi keputusan-keputusan yang perlu diambil.

Komponen context, merupakan evaluasi awal menyangkut kajian program seperti: kebutuhan dan faktor-faktor penunjang dan penghambat. Komponen input, menyangkut pengkajian alternatif implementasi, sehingga diperoleh alternatif yang lebih efektif dan efisien. Komponen process, untuk menetapkan kecocokan antara yang direncanakan dengan yang betul-betul terjadi. Dan kompnen product, membandingkan hasil yang diperoleh dengan yang dilakukan orang lain atau dengan tujuan-tujuan yang terdapat dalam program semula.

c. Evaluasi perlu direkayasa

Evaluasi merupakan suatu kajian yang unik, karena evaluasi bergerak antara suatu kajian akademik dengan suatu kajian yang selalu harus memiliki kegunaan praktis. Kajian evaluasi bersifat akademik karena menggunakan berbagai kriteria keilmuan yang biasa dianut dalam penelitian beserta segala tradisinya yang berlaku. Meskipun demikian, evaluasi akan kehilangan jati dirinya apabila tidak memiliki keguanaan praktis (Welch dan Sternhagen, 1991. Guba, 1990, dan Smith, 1988).. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa evaluasi perlu direkayasa sehingga evaluasi yang bersifat akademik akan memiliki kegunaan praktis,

Informasi dan pertimbangan yang diberikan evaluasi dapat digunakan memperbaiki ataupun mengganti apa yang ada (Stodolsky, 1984, dan Clark, 1988). Pada dasarnya, keguanaan untuk memperbaiki keadaan lebih umum dan lebih banyak dalam aplikasinya dibandingkan dengan kegunaan penggantian. Dalam literatur evaluasi kurikulum, kegunaan pertama disebut dengan istilah formatif sedangkan yang kedua dinamakan sumatif (Scriven, 1967).

Menyimak kedua kegunaan tersebut keberadaan evalusi sukar dielakkan. Kedua kegunaan itu menggambarkan adanya kebutuhan setiap upaya pendidikan, pada tingkat lokal, regional, nasional, ataupun internasional, akan jasa evaluasi. Tantangan dan kemajemukan warna serta strata kehidupan yang ada, baik disebabkan karena keterbukaan yang semakin meluas akibat kemajuan teknologi komunikasi, menyebabkan pengawasan serta optimalisasi sumber-sumber yang ada, termasuk di dunia pendidikan, tidak dapat dilakukan secara mandiri (Patton, 1988). Keluasan ruang lingkup dan kompleksitas problema kurikulum, sebagai salah satu komponen pendidikan, menghendaki adanya jasa evaluasi yang dikelola secara profesional.

Jasa evaluasi tidak hanya diberikan kepada berbagai instansi birokrasi dan administrasi kependidikan. Evaluasi memberikan jasanya kepada berbagai pihak yang menyangkut dalam satu upaya pengembangan kurikulum. Evaluasi memberikan jasanya kepada berbagai pihak dan tingkat managemen, pemakai dan pelaksana kurikulum, maupun kepada pihak pembuat keputusan dan pengembangan kurikulum. Perluasan audience ini perlu karena itu evaluasi sesegera mungkin digunakan dan upaya perbaikan kurikulum dilaksanakan.

Adanya asas manfaat dari evaluasi menimbulkan suatu tuntutan agar hasil evaluasi (informasi dan pertimbangan-pertimbangan) dapat disediakan secara terus menerus. Untuk itu diperlukan suatu rekayasa evaluasi yang terus menerus pula, yang berlangsung sejak awal suatu kurikulum dihasilkan sampai dengan pelaksanaan dan pada waktu kurikulum memberikan hasilnya. Artinya, diperlukan adanya lembaga profesional yang memberikan jasa evaluasi kepada berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan dan pelaksanaan kurikulum.

d. Kegiatan Evaluasi dan Misi Perubahan Kurikulum

Kaitan Evaluasi dan Kurikulum

Evaluasi dan kurikulum merupakan disiplin yang berdiri sendiri. Ada pihak yang berpendapat antara keduanya tidak ada hubungan, tetapi ada pihak lain yang menyatakan keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Pihak yang menyatakan adanya hubungan, hubungan tersebut merupakan hubungan sebab akibat. Perubahan dalam evaluasi akan memberian warna kepada pelaksanaan kurikulum. Hubungan antara evaluasi dengan kurikulum bersifat organis.

Ketika evaluasi dengan kurikulum dapat dilihat dari fungsi evaluasi, yakni formatif dan sumatif. Menurut Mc Neil (1990:241) ada empat fungsi evaluasi, yakni : fungsi sumatif, fungsi sosial politik, dan fungsi administrasi. Fungsi formatif dilaksanakan apabila hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu atau sebagain kurikulum yang sedang dikembangkan. Bagian yang diperbaiki itu dapat saja merupakan bagian dari kurikulum sebagai ide, rencana, kegiatan ataupun hasil. Perbaikan itu dapat pula dilakukan ketika melakukan evaluasi terhadap diemensi kurikulum. Misalnya, hasil evaluasi terhadap kurikulum sebagai kegiatan dapat dipergunakan untuk memperbaiki kurikulum sebagai rencana. Hasil evaluasi terhadap kurikulum sebagai rencana dapat dipergunakan untuk memperbaiki kurikulum sebagai ide.

Fungsi sumatif evaluasi adalah memberikan perhatiannya terhadap hasil dari kurikulum. Oleh karena itu fungsi sumatif baru dapat dilaksanakan apabila kurikulum tersebut telah dianggap selesai pengembangnnya. Fungsi sosial politik dimaksudkan sebagai motivasi dan dukungan-dukungan yang diberikan oleh masyarakat. Sedangkan fungsi administrasi berkenaan dengan masalah-masalah kewenangan dan kekuasaan.

Strategi evaluasi, sangat bertalian erat dengan tipe kurikulum yang digunakan, seperti strategi pengembangan dan penyebaran dihasilkan oleh kurkulum yang menekankan pada isi ”Goal free evaluation” dalam kebanyakan kurikulum bukan merupakan satu-satunya prosedur evaluasi yang paling mungkin (Sukmadinata, 1988:197)

Kegiatan Evaluasi dapat Menggagalkan Misi Pembaharuan Kurikulum

Kaitan antara evaluasi dan kurikulum adalah adanya evaluasi akan memberikan jawaban sejauh mana relevansi kurikulum dengan keperluan masyarakat serta sejauh mana kurikulum tersebut mampu mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang dicantumkan di dalam kurikulum itu. Jadi, jelaslah apabila kita perhatikan kegiatan evaluasi sangatlah penting dan bahkan akan dapat menggagalkan misi pembaharuan kurikulum.

Terjadinya pembaharuan kurikulum mungkin disebabkan oleh perkembangan ilmu, teknologi, dan nilai serta norma baru dalam masyarakat. Pada abad keduapuluh dan terutama dekade delapan puluhan adalah masa dimana perkembangan ilmu dan teknologi sangat pesat dan tidak tertandingi oleh perkembangan pada masa sebelumnya dalam sejarah umat manusia. Perkembangan ini mempengaruhi nilai dan norma yang dianut masyarakat. Kalau dalam masa sebelumnya pengetahuan dan ilmu tentang politik, hukum, sastra, dan budaya adalah lembaga keterpelajaran seseorang menjadi yang diagungkan. Tentu saja sikap ini memberikan tuntutan baru terhadap pendidikan pada umumnya dan kurikulum pada khususnya.

Namun demikian evaluasi tetap ikut berperan dalam hal ini, apakah pembaharuan tersebut benar-benar telah sesuai dengan tuntutan masyarakat. Hanya saja dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang pesat ini juga meminta kewaspadaan yang tinggi bagi pengelola evaluasi. Dengan kata lain dengan adanya rekayasa kurikulum (pembaharuan kurikulum) evaluasi juga harus ikut menyesuaikan diri (direkayasa), sehingga evaluasi dapat meemberikan informasi yang berkesinambungan mengenai keselarasan kurikulum dengan perkembangan masyarakat. Evaluasi harus dapat menentukan apakah kurikulum yang ada masih relevan dengan perkembangan masyarakat terlepas dari unjuk kerja yang diperlihatkan suatu kurikulum. Evaluasi harus dapat mencegah terjadinya apa yang dikenal dengan istilah sabertooth curriculum (Benyanin, 1939), semacam mata gigi yang justru akan mencercah, melumatkan, dan memusnahkan apa yang dikunyahnya. Apapun hasil evaluasi, tidak boleh meniadakan atau bahkan memusnahkan materi yang dievaluasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayanto. D.N. 2006. Pemikiran kependidikan, dari filsafat ke ruang kelas, yogyakarta: Liberty.

U.U No. 2 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional, Penerbit Armas Duta Jaya, Jakarta

Surachmad, Winarno. 2004. Pendidikan untuk Masa Depan. Jakarta ; IPSI

Beane, J. 1990. Affect in the Curriculum: Toward Democracy, Dignity, and Diversity. NY : Teachers College Press.

Ansyar, Muhammad, 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Depdikbud, P2LPTK

Juni 10, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: