Islamuddin’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Ilmu Pengetahuan dan Hubungan Antar Manusia

1. Pendahuluan

Manusia untuk dapat hidup di dunia ini harus memiliki sains atau ilmu pengetahuan yang cukup, karena manusia mempunyai kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup manusia yang mendasar berupa kebutuhan: pangan, sandang dan papan (perumahan). Walaupun manusia tergolong makhluk yang lemah, jika dibandingkan dengan gajah, harimau, buaya atau pun singa, namun karena manusia memiliki sains (ilmu), maka manusia dapat “mengalahkan” mereka. Kata sains yang merupakan padanan kata ilmu pengetahuan atau sering disebut hanya dengan kata ilmu berasal dari kata science (Inggris) atau scientia (Latin). Menurut Alfandi (2001), ilmu adalah sistem pengetahuan di bidang tertentu yang bersifat umum, sistimatis, metodologis, logis, objektif, empiris, memuat dalil-dalil tertentu menurut kaidah umum, berguna untuk mencari kebenaran ilmiah yang kemudian akan bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia. Ilmu juga dapat didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan yang menjelaskan hubungan sebab akibat suatu objek yang diteliti berdasarkan metode tertentu, yang merupakan satu kesatuan sistematis. Sedangkan pengetahuan adalah bentukan pola pikir asosiatif antara pikiran dan kenyataan sebenarnya yang didasarkan pada kumpulan pengalaman sendiri maupun orang lain di suatu bidang tertentu tanpa memahami adanya hubungan sebab akibat yang hakiki dan universal. Lebih lanjut Alfandi (2001) mengemukakan bahwa pengetahuan belum dapat digolongkan sebagai ilmu, karena belum dapat menjelaskan pertanyaan: “mengapa”. Dalam membahas sains istilah epistemologi, ontologi, metodologi dan aksiologi harus diketahui oleh para calon peneliti. Epistemologi adalah suatu teori tentang pengetahuan yang berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan. Jadi epistemologi adalah pemanfaatan proseduer kerja untuk memperoleh pengetahuan yang benar dengan menggunakan metode ilmiah. Ontologi adalah apa yang ingin diketahui mencakup lingkup batas jati diri (beeing) dan keberadaan eksistensi penelaahan objek (sasaran) keilmuan dan penafsiran

tentang hakekat kenyataan yang khas serta perubahan dari objek keilmuan. Metodologi adalah ilmu yang membicarakan metode-metode ilmiah yang meliputi: unsur dari metode ilmiah, langkah-langkah kerjanya, jenis-jenisnya sampai kepada batas-batas dari metode ilmiah. Aksiologi adalah nilai tujuan pemanfaatan dan penggunaan pengetahuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kebutuhan hidup manusia. Kebenaran ilmiah perlu dicari karena dengan mendapatkan kebenaran ilmiah maka akan diperoleh kesesuaian atau kesamaan antara pikiran manusia dengan keadaan sebenarnya yang bersifat runtut (coherent, consistent), logis (logic), dan saling berhubungan (corenpondence) yang membentuk sistem tertentu. Kebenaran ilmiah umumnya hanya dapat diperoleh dengan melakukan penelitian. Sekitar 99% diperoleh dengan keringat (kerja) dan hanya sekitar 1% yang diperoleh berdasarkan intuisi atau kebetulan. Mahasiswa khususnya program pasca sarjana diharuskan untuk membuat tesis dan disertasi berdasarkan penelitian. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh tambahan ilmu pengetahuan manusia melalui bukti-bukti yang berupa fakta dengan mempergunakan prosedur atau tata kerja ilmiah yang kritis dan terkendali yang tidak hanya berguna untuk dirinya sendiri, namun juga untuk orang banyak. Hasil penelitian perlu disebar-luaskan, agar kuantitas manusia yang dapat menerima informasi tentang tambahan ilmu tersebut menjadi semakin luas.

1.1. Definisi Sains

Definisi sains dapat berbeda-beda. Berikut ini disajikan beberapa definisi sains yang telah ditulis oleh beberapa pengarang buku.

Pengetahuan yang sistimatis yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan, penelaahan dan percobaan yang dilakukan untuk mengetahui prinsipprinsip alam (Webster’s New World College Dictionary hal. 1202).

Paul Freedman (1950) dalam bukunya The Principles of Scientific Research adalah: “Suatu bentuk aktivitas manusia untuk memperoleh suatu pembahasan dan pemahaman tentang alam yang cermat dan lengkap, pada waktu yang lalu, masa kini dan masa yang akan datag serta untuk meningkatkan kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri terhadap lingkunganya serta untuk mengubah sifat-sifat lingkungan agar ia dapat beradaptasi terhadap lingkungan tersebut sesuai dengan keinginannya” (Liang Gie,1984).

Blis (1929) dalam bukunya The Organisation of Knowledge menyatakan ilmu adalah: “Kumpulan pengetahuan yang disusun secara teratur dan dapat dibuktikan kebenarannya secara metodik dan rasional yang dihasilkan dari data-data eksperimental dan empirik, konsep-konsep sederhana, dan kaitankaitan perseptual menjadi kaidah yang dapat digeneralisas, teori, kaidah, asas dan penjelasan menjadi konsepsi-konsepsi yang lebih luas cakupannya dan sistem-sistem konseptual” (Liang Gie, 1984).

Laubenfels (1949) dalam bukunya Life Science menyatakan Ilmu didefinisikan: “Suatu pengetahuan tentang asas-asas atau fakta-fakta dalam pencarian kebenaran yang telah diklasifikasikan secara teratur (Liang Gie,1984).

Sporn (1970) dalam bukunya Technology, Engineering, and Economics menyatakan Ilmu dapat dikatakan merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang dapat dibuktikan secara eksperimental, sistematik mengenai hubungan-hubungan antara fenomena kompleks dunia fisik (Liang Gie,1984).

1.2. Manfaat dan Lawas Sains

Ilmu pengetahuan manusia sangat berkembang setelah manusia mulai mempunyai kemampuan untuk mambaca dan menulis serta membukukan pengetahuan yang ditemukannya. Menurut Liang Gie (1984), dengan berkembangnya sains, manusia terus mencari dan mengetahui sains sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya, karena sains bermanfaat untuk:

Mengungkap suatu kebenaran (truth),

Menambah pengetahuan (knowledge) agar lebih terampil dalam mengarungi bahtera hidup,

Meningkatkan pemahaman (understanding, comprehension, insight) terhadap sesuatu gejala alam,

Menjelaskan (explanation) proses sebab akibat dari suatu kejadian,

Memprakirakan (prediction) sesuatu kejadian yang bakal terjadi,

Mengendalikan (control) alam agar sesuai dengan yang diharapkan,

Menerapkan (appplication) suatu kaidah alam,

Menghasilkan (production) sesuatu yang berguna untuk kehidupan umat manusia masa kini dan masa yang akan datang.

Dengan semakin berkembangnya pengetahuan manusia dari jaman ke jaman, maka lawas kajian sains menjadi demikian luas. Walaupun demikian, ternyata ilmu memiliki dikotomi, sehingga dapat dibedakan menjadi: ilmu abstrak (abstract science) versus ilmu nyata (concrete science), ilmu a priori (a priori science) versus ilmu empiris (empirical science), ilmu dasar (basic science) versus ilmu terapan (applied science), ilmu deskriptif (descriptive science) versus ilmu normative (normative science), ilmu empiris (empirical science) versus ilmu nonempiris (nonempirical science), ilmu eksakta (exact science) versus ilmu noneksakta (unexact science), ilmu formal (formal science) versus ilmu faktual (factual science), ilmu nomotetik (nomothetic science) versus ilmu idiografik (idiographic science).

1.3. Struktur Ilmu

The New Encyclopaedia Britannica membagi – kelompokkan sains yang dimiliki oleh manusia berdasarkan beberpa pohon ilmu sebagai berikut:

1. Logika (logic)

a. Sejarah dan Filsafat logika (History and philosophy of logic) yang terdiri dari:

Sejarah Logika (History of Logic).

Filsafat logika (Philosophy of Logic).

b. Logika formal, metalogika, logika terapan (Formal logic, metalogic, and applied logic) yang terdiri dari:

Logika formal (Formal logic).

Metalogika (Metalogic).

Logika terapan (Applied logic).

2. Matematika (Mathematics).

a. Sejarah dan landasan matematika (History and foundations of mathematics) yang terdiri dari:

Sejarah matematika (History of mathematics).

Landasan matematika (Foundations of mathematics).

b. Cabang-cabang matematik (Branches of mathematics).

Teori Himpunan (Set Theory).

Aljabar (Algebra).

Geometri (Geometry).

Analisis (Analysis).

Kombinatorika dan teori bilangan (Combinatories and number theory)

Topologi (Topology).

c. Penerapan-penerapan matematika (Application of mathematics).

Matematika sebagai suatu ilmu berhitung (Mathematics as a calculatory science).

Statistika (Statistic).

Analisis numeris (Numerical analysis).

Teori automata (Automata theory).

Teori matematis optimisasi (Mathematical theory of optimization).

Teori informasi (Information theory).

Matematika tentang teori fisika (Mathematical aspects of physical theories).

3. Ilmu Alam (Natural Science).

a. Sejarah dan filsafat ilmu (History and philosophy of science) yang terdiri dari:

Sejarah Ilmu (History of Science),

Filsafat ilmu (Phylosphy of science)

b. Ilmu-ilmu Fisika (Physical sciences) yang dapat dibagi ke dalam:

Sejarah ilmu fisika (History of the Physical science)

Sifat dasar dan lingkup astronomi dan astrofisika (The nature of enscope of astronomy and astrophysics)

Sifat dasar dan lingkup fisika (the Nature of enscope of Physics)

Sifat dasar dan lingkup kimia (The nature of enscope of Chemistry)

c. Ilmu Bumi (the Earth science) yang membahas tentang:

Sifat dasar dan sejarah ilmu bumi (The nature and history of the Earth science),

Sifat dasar, lingkup dan metode-metode ilmu Bumi khusus (The nature, scope and methods of particular Earth science)

c. Ilmu-ilmu Biologi (The Biological sciences) yang terdiri dari:

Perkembangan ilmu-ilmu biologi (Development of the Biological Sciences)

Sifat dasar, lingkup dan metodologi Ilmu Biologis (The nature, scope and methodology of the Biological Sciences)

Filsafat Biology (Philosophy of Biology)

d. Ilmu Kedokteran dan disiplin ilmu yang tergabung (Medicine and affiliated disciplines) yang membahas tentang:

Sejarah Ilmu Kedokteran (History of medicine)

Bidang-bidang praktek atau penelitian medis khusus (Field of Specialized medical practised or research)

Displin ilmu yang tergabung dalam ilmu kedokteran (Disciplines of affiliated with medicine)

e. Ilmu Sosial dan psikologi (The social sciences and psychology) yang mencakup:

Perkembangan ilmu sosial (Development of the Social sciences)

Sifat dasar antropologi (The nature of anthropology)

Sifat dasar sosiologi (The nature of sociology)

Sifat dasar ilmu ekonomi (The nature of economics)

Ilmu Politik (Political sciences)

Sejarah dan metode psikologi (History and methods of Psychology)

f. Ilmu Teknologi (The technological sciences)

Sejarah ilmu teknologi (History of technological sciences)

Segi-segi akademika dan profesional dari keinsinyuran (Academics and professional aspects of engineering)

Sifat dasar dan cakupan ilmu pertanian (The nature and scope of agricultural sceinces)

Sifat dasar dan cakupan displin antar ilmu yang baru dikembangkan (The nature and scope of presently developed intersciences disciplines)

4. Sejarah dan humaniora (History and humanities)

Sejarah dan Humaniora dapat dibagi lagi ke dalam:

a. Historiografi dan studi sejarah (historyography and the study of history)

Historiografi (historyography)

Penyelidikan dan penelitian sejarah modern (modern hitorical investigation and research)

Filsafat sejarah (Philosophy of History)

b. Humaniora dan kesarjanaan humanistik (the Humanities and humanistics scholarship)

Sejarah kesarjanaan humanistik (History of humanistic scholarship)

Humaniora (The humanities).

5. Filsafat (philosophy).

Filsafat terdiri dari:

a. Sifat dasar dan pembagian filsafat (The nature and the divisions of philosophy)

Sifat dasar, lingkup dan metode filsafat (The nature, scope and methods of philosophy)

Pembagian filsafat (The divisions of philosophy)

b. Sejarah filsafat (History of philosophy)

Penulisan sejarah filsafat (The writings of history of philosophy)

Sejarah filsafat Barat (History of Western Philosophy)

Filsafat bukan Barat (Non Westerns Philosophy)

Filsafat yang berhubungan dengan agama (Philosophies associated with religions)

c. Aliran dan ajaran filsafat (Philosiphycals Schools and doctrines)

Aliran-aliran filsafat utama di Barat (Major Philosiphycal Schools in the West)

Teori ada dan eksistensi (Theories of Beeing and Existence)

Teori pikiran, pengetahuan dan daya budi (Theories of Thought and Knowledge and Faculties of Minds)

Teori perilaku (Theories of conduct)

Sedangkan The World Book Encyclopedia membagi sains menjadi:

1. Matematika dan logika (Mathematics and logic). Contohnya: aritmatika, aljabar, kalkulus dan statistik.

2. Ilmu Fisika (The Physical science). Contohnya: Astronomi, kimia, geologi, meteorologi dan fisika.

3. Ilmu Kehidupan (The Life science). Contohnya: Zoologi, botani, fisiologi, taksonomi dan ekologi.

4. Ilmu Sosial (Social science). Contohnya: Antropologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi dan ilmu sosial.

I. Ilmu Pengetahuan Memiliki Keterbatasan

Bayi yang kecil dan lemah dilengkapi dengan indra yang bekerja amat sangat sederhana sesuai dengan kadar kebutuhannya, yang hanya dapat mengenal keadaan gelap-terang, panas-dingin dan basah-kering. Dia akan menangis jika setelah lama pipis, popoknya tidak juga segera diganti. Dia juga akan sering menengok ke arah datangnya cahaya. Dia juga akan kaget karena kilatan halilintar dan segera akan menangis keras ketika mendengar gelegarnya guruh dengan suara yang menggema memekakkan telinga. Dengan bertambahnya usia sang bayi, indra yang dimilikinya mulai bekerja lebih sempurna. Dia mulai bisa mengenal roman muka ibu dan ayahnya. Dia juga bisa memberikan respons terhadap warna, suara dan bunyi. Bila ibu atau ayah sering mengajaknya berbicara walau ketika itu dia masih berusia 1 (satu) bulan, maka pada usianya yang ke 2-3 bulan lebih dia mulai bisa diajak bicara dan seperti orang yang sudah mengerti pembicaraan. Dia memberikan respons dengan tersenyum dan mengeluarkan bunyi dari mulutnya yang mungil itu menandakan bahwa dia senang diajak berbicara. Seiring dengan bertambahnya usia, bayi yang kecil dan lemah itu tumbuh dan berkembang. Tubuhnya yang semula kecil dan lemah tumbuh menjadi bertambah besar dan tinggi serta kuat. Kemampuan penglihatan dan pendengarannya semakin meningkat. Fisiknya terus berkembang sejalan dengan itu pula pengtahuannya semakin bertambah banyak dan luas sampai ia dapat membaca dan menulis serta menggambar. Bahkan setelah menjadi dewasa dia memiliki ilmu pengetahuan yang terus bertambah bahkan bisa merumuskan ilmu pengetahuan dan teknologi baru yang terus menerus berkembang dari jaman ke jaman. Walaupun manusia mempunyai kelebihan diberikan akal dan pikiran dengan volume otak yang lebih besar dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya dan dengan kelebihannya itu dapat terus menyempurnakan ilmu dan pengetahuannya, namun manusia memiliki keterbatasan. Manusia adalah makhluk yang lemah, jika diperbandingkan dengan luas dan besarnya makhluk ciptaan Tuhan yang tersebar di seluruh alam jagat raya ini. Apalagi jika diukur dengan skala waktu dan skala

dimensi ilmu yang lebih luas. Ilmu pengetahuan banyak yang bersifat rasional (dapat diterima dengan akal). Namun tidak sedikit pula yang tidak dapat diterangkan dengan akal. Jangankan ketika dibandingkan dengan waktu dan dimensi ciptaan Allah yang tidak terjangkau; dengan hal-hal yang ada disekitar saja, ilmu pengetahuan manusia kadangkala menemui kebuntuan. Mana yang lebih dahulu muncul di dunia ini telur atau ayam ? Ilmu pengetahuan pun kadang-kadang hanya dapat diterangkan melalui simbol-simbol, tidak ada dalam kenyataan hidup sehari-hari. Misalnya saja lambang: 1/sin3600, Cos β x 3 log 20, 4 m/det2, dan lain-lain tidak dapat ditemukan atau dilihat, didengar atau dirasakan keberadaannya dalam wujud kehidupan manusia sehari-hari. Ilmu pengetahuan walaupun telah diteliti dengan menggunakan pendekatan ilmiah, namun tetap saja ada sisi-sisi kehidupan manusia yang tidak dapat dimasukkan dalam kelompok benar atau salah, namun masuk dalam katagori abuabu. Misalnya Euglena, karena tubuhnya mempunyai cambuk dan dapat bergerak, maka dapat digolongkan sebagai hewan. Namun, karena ia juga memiliki klorofil, maka dapat digolongkan sebagai tumbuhan. Demikian juga dengan Platyphus tidak dapat digolongkan entog (mentog), karena anaknya disusui, namun tidak dapat digolongkan binatang menyusui, karena bentuknya sangat mirip dengan entog. Binatang ini mempunyai paruh dan bulu yang mirip dengan entog. Demikian pula dengan pendapat orang dan masyarakat. Kasus pertama, ketika seorang ayah dan anaknya naik seekor keledai, maka orang akan mengatakan bahwa kedua orang tersebut tidak berperikemanusiaan, karena keledai demikian kecil ditunggangi oleh dua orang. Kasus kedua, ketika ayahnya turun dari keledai, ada orang yang mengatakan anak tidak tahu diri. “Masak ayah disuruh berjalan sementara anaknya enak-enak menunggang keledai”. Kasus ketiga, ketika anaknya yang turun dari keledai dan berjalan, sementara ayahnya naik keledai, dikatakan orang sebagai ayah yang tidak sayang anak. Kasus keempat, ketika kedua-duanya turun dari keledai dan berjalan menutunnya, dikatakan bahwa percuma mempunyai keledai, kalau tidak dimanfaatkan. Dari pelajaran itu, dalam skala ruang dan waktu yang luas, kita nampaknya tidak selalu harus dapat menerima atau menolak hipotesis nol (Ho). Kadang-kadang kita tidak dapat membenarkan sesuatu dan sebaliknya menolak yang lain. Manusia memiliki keterbatasan kemampuan. Mana yang lebih dahulu ayam atau telur ? Kita sulit menentukan mana yang benar. Kita harus percaya pada kekuasaan dan kebesaran Tuhan yang tiada tara bandingan-Nya. Oleh sebab itu, untuk mengarungi dunia fana ini diperlukan agama.

II. Kebutuhan Manusia Meningkat

Populasi manusia meningkat secara eksponensial (menurut Deret Kali). Untuk memenuhi kebutuhan manusia perlu disediakan sumberdaya alam dan buatan yang bahan bakunya diambil dari alam. Jika pemenuhan kebutuhan hanya didasarkan kepada teknologi kuno, maka kebutuhan manusia yang banyak itu tidak akan terpenuhi. Oleh sebab itu, perlu ditemukan terobosan-terobosan baru seperti : teknologi kultur jaringan, transgenik, vermikultur, hidrofonik dan lain sebagainya.

III. Pengetahuan dan Hubungannya dengan Masyarakat

Menengok kembali kasus Cardiff, jika perbaikan Cardiff hanya memakai pendekatan non-social capital pasti yang dikembangkan hanyalah pendidikan yang sifatnya formal, yaitu sekolah, di mana materinya datang dari orang luar yang melihat kedalam. Tapi mereka lalu menyadari bahwa kapital sosial bukan itu, tapi merupakan koneksi atau hubungan antara pengetahuan-pengetahuan dalam masyarakat. Bukan hanya pengetahuan orang per orang tapi koneksi mereka. Kenapa mereka menyimpan foto tentang orang kulit hitam, putih dan Cina bermain bersama? Karena di sana mereka melihat ada koneksinya di sana. Jadi pengetahuan bersama yang mereka rekam.

Musium dan perpustakaan seharusnya berfungsi seperti itu tapi karena ketekunan teman teman pusdokinfo hanya menggarap bendanya misalnya benda, dokumen dan lupa dokumen punya sejarah dan tidak direkam, bahwa dokumen ini punya pemakai tidak pernah terekam. Perpustakaan di Perguruan Tinggi misalnya, memang mengejar pertumbuhan dokumen yang cepat sekali sehingga semua dokumen sudah kehilangan intimacy-nya. Ini sebabnya kepemilikan pengetahuan sosial lebih berlaku pada local lokal atau masyarakat kecil-kecil, dikerjakan oleh kelompok yang berhubungan dengan yang akan-memakainya.

Cara menghimpun pengetahuan bisa berbagai macam bentuknya seperti oral history yang menjadi bagian dari penghimpunan pengetahuan local.

Pengetahuan lokal yaitu pengetahuan yang tidak mendapat legitimasi, tidak memerlukan legitimasi, yang tidak memerlukan pengesahan atau validasi. Pengetahuan yang datang atau muncul karena orang mengalaminya secara pribadi.

Pengetahuan lokal biasanya tersimpan secara tacit. Perlu ada orang yang membuatnya jadi eksplisit. Tapi sebelum itu perlu ada kepercayaan terlebih dahulu Dalam perubahan dari tacit menjadi eksplisit selalu ada yang namanya kepercayaan atau trust. Trust ini susah dirumuskan jika pewawancara (pihak yang mengumpulkan pengetahuan) dan yang diwawancarai tidak punya kesepakatan dulu tentang suatu hal. Pengetahuan tidak hanya formal tapi juga informal sifatnya. Setelah itu pengetahuan yang terkumpul dihimpun dan di sistimastisir. Itu tugasnya orang dokumentasi, menata dengan baik agar gampang ditemukan kembali. Dengan kata lain dibuatlah sistem informasinya. Cuma sistem informasi ini agak berbeda. Kalau dulu kita meyimpan apa yang kita anggap baik atau sesuatu yang sudah divalidasi. Sering bentuknya sudah ditentukan dulu oleh orang yang menyimpannya. Kalau pengetahuan lokal tidak perlu divalidasi.




Daftar Pustaka

Alfandi, W., 2001. Epistemologi Geografi. Gajah Mada University Press, Yogyakarta. 173 hal.

Liang Gie, The, 1984. Konsepsi tentang Ilmu. Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi. Yogyakarta. 114 hal.

The World Book Encyclopedia Vol. 17: 139.

Webster’s New World College Dictionary: 1202

Juni 10, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: